Langsung ke konten utama

RESENTRALISASI DAN PENENTANGAN DARI DAERAH

Di era Pemerintahan Presiden Prabowo, banyak perubahan yang mulai dilakukan. Salah satu perubahan yang banyak mendapat tantangan adalah pendekatan "resentralisasi" pengelolaan negara. Di satu sisi, hal ini akan menciptakan efisiensi dan meningkatkan peluang keberhasilan program dan kegiatan. Apalagi, situasi perang saat ini sangat membutuhkan pendekatan ini. 

Sayangnya, setelah reformasi dan kejatuhan Soeharto, resentralisasi telah menjadi momok bagi banyak pihak. Tidak aneh jika kemudian para pendukung otonomi daerah menentang pendekatan resentralisasi ini, baik secara terbuka maupun tertutup. Kita bisa melihat, sebagai contoh, beberapa pihak datang langsung ke mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk mengungkapkan penentangan tersebut. 

Itu sebabnya, tidak aneh jika kemudian Presiden Prabowo dalam wawancaranya baru-baru ini meminta agar pemerintah daerah tidak menentang pemerintah. Sebagai contoh, kebijakan efisiensi yang menggeser anggaran sekitar Rp308 triliun telah memunculkan penentangan yang besar dari pemerintah daerah. Argumentasi Presiden Prabowo adalah bahwa selama ini banyak anggaran negara yang disalahgunakan di daerah. Dengan mengambil kendali secara terpusat, ia percaya bahwa anggaran yang ada bisa semakin meningkatkan kualitas pembangunan. 

Poin pentingnya adalah pada saat ini terjadi pergeseran pemerintahan yang semakin terpusat. Hal ini memang sudah menjadi keinginan dari para pendiri bangsa ketika Indonesia merdeka. Karenanya, muncul konsep "negara kesatuan". 

Pada kutub lain, memang konsep terpusat ini mendapat kritikan yang pedas karena banyak daerah di Indonesia yang masih belum terjangkau. Mereka ragu, dengan kebijakan resentralisasi, daerah-daerah di pedalaman akan bisa terbangun. 

Sayangnya, dalam operasi sistem sehari-hari kita pun masih menemukan tantangan pada praktik pengendalian yang terpusat ini. Pada sektor publik, baru terasa adanya layanan terpusat yang memudahkan penerbitan layanan kependudukan. Sebagai contoh, kita bisa mencetak kartu identitas penduduk yang rusak di mana pun, tidak mesti di kota asal kita. 

Akan tetapi, pada layanan seperti Sistem Administrasi Pelayanan Satu Atap (SAMSAT), layanan terpusat itu belumlah terjadi. Kepolisian memang sudah memiliki aplikasi Signal yang memungkinkan kita mendapat pelayanan pembayaran pajak kendaraan bermotor (PKB) dan pengesahan surat tanda nomor kendaraan bermotor (STNK) dari mana pun. Namun, ketika alamat pada kartu identitas penduduk kita berubah, ternyata layanan SAMSAT kita pun terhenti. Kita harus mengurus perpindahan registrasi STNK kita dari kantor SAMSAT asal ke kantor SAMSAT baru. 

Kita ini sebenarnya tinggal di satu negara kesatuan yang namanya Indonesia atau bukan, sich? Kesannya, kita belum menjadi sebuah negara kesatuan kalau masih seperti ini. Kita masih terkotak-kotak berdasarkan wilayah kedaerahan masing-masing. Padahal, di negara seperti Selandia Baru, perpindahan alamat pada kartu identitas itu tidak akan memberikan konsekuensi serumit ini. 

Intinya, kita sebenarnya masih memiliki tantangan besar menuju resentralisasi pengelolaan negara jika hal-hal seperti ini tidak segera dibenahi. 

Kita harus segera membenahinya jika ingin Indonesia menjadi yang dicita-citakan oleh para pendiri bangsa, menjadi sebuah "Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)". 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KENAPA SPBU PETRONAS GAGAL BERBISNIS DI INDONESIA?

Muncul publikasi di media tentang ditutupnya SPBU Petronas di Indonesia. Akhirnya, perusahaan unggul milik pemerintah Malaysia ini hengkang juga dari Indonesia. Sebenarnya, saya telah lama melihat keanehan SPBU Petronas ini. Setiap saya melewatinya, bisa dibilang hampir-hampir tidak ada pengunjungnya. Keanehan kedua, menurut saya, pemilihan lokasinya yang tidak tepat. Hal ini berbeda sekali dengan SPBU Shell. Walaupun harganya mahal mengikuti harga minyak dunia, SPBU milih Belanda ini masih memiliki pengunjung yang lumayan. Salah satu sebabnya adalah pemilihan lokasi yang tepat. Saya menjadi bertanya, kenapa perusahaan sekaliber Petronas bisa salah menempatkan SPBU-nya di Indonesia. Anehnya, Petronas dengan semangat langsung memasang jumlah pompa yang banyak. Bandingkan dengan SPBU Shell yang jumlahnya sesuai dengan kebutuhan pasar. Saya menduga ada 2 penyebab kesalahan strategi Petronas tersebut. Keduanya terkait perencanaan masuk ke pasar. Dugaan pertama saya, Petronas salah ...

DI TENGAH REDUPNYA SOKONGAN PEMBERANTASAN KORUPSI, TIDAK HANYA BPK YANG BERWENANG MENGHITUNG KERUGIAN NEGARA

Setelah Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 28 Tahun 2026, baru-baru ini muncul kembali kontroversi tentang siapa yang berwenang menghitung kerugian negara. Salah satu pandangan dalam diskusi di sebuah grup media sosial menyatakan memang benar bahwa dalam putusan Mahkamah ini salah satu yang diuji adalah soal siapa lembaga yang berwenang menghitung kerugian negara. Jelasnya, pada awalnya Mahkamah dalam putusannya ketika menguji siapa yang berwenang tersebut  membahas soal konsepsi kerugian negara yang dianut oleh Indonesia, yaitu konsepsi kerugian negara dalam arti materiil.  Artinya, suatu perbuatan dapat dikatakan merugikan negara dengan syarat harus adanya kerugian negara yang benar-benar nyata dan aktual setelah dihitung jumlahnya oleh instansi atau lembaga yang berwenang, yang dalam penjelasan Pasal 603 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 adalah berdasarkan hasil pemeriksaan lembaga negara audit keuangan, yaitu Badan Pemeriksa Keuangan.  Pertimbangan tersebut mengacu pada...

CATATAN KECIL PENGAMBILAN KEPUTUSAN PRESIDEN PRABOWO YANG BERBASIS DATA

Di luar kontroversi yang berkembang di media sosial, pidato Presiden Prabowo di Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat pada 20 Mei 2026 menyisakan catatan penting yang menarik, yaitu dijalankannya perumusan keputusan strategis baru berbasis analisis data yang tajam dan komprehensif.  Rapat Paripurna itu adalah pengantar pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) tahun 2027. KEM-PPKF yang biasanya disampaikan oleh Menteri Keuangan, kali ini disampaikan langsung oleh Presiden.  Yang menarik, pada bagian awal pidatonya, Presiden Prabowo menguraikan sasaran pembangunan tahun 2027. Kita bisa melihat pada diagram berikut, sasaran pembangunan tahun 2027 terasa sekali sangat memberi perhatian pada "kesejahteraan rakyat". Karenanya, beberapa kalangan menyebutnya sebagai "ekonomi kerakyatan" atau pendekatan ekonomi yang lebih "sosialistik". Tampak pada gambar tersebut, penurunan kemiskinan, pengurangan pengangguran, penurunan kese...