Di luar kontroversi yang berkembang di media sosial, pidato Presiden Prabowo di Rapat Paripurna Dewan Perwakilan Rakyat pada 20 Mei 2026 menyisakan catatan penting yang menarik, yaitu dijalankannya perumusan keputusan strategis baru berbasis analisis data yang tajam dan komprehensif.
Rapat Paripurna itu adalah pengantar pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) tahun 2027. KEM-PPKF yang biasanya disampaikan oleh Menteri Keuangan, kali ini disampaikan langsung oleh Presiden.
Yang menarik, pada bagian awal pidatonya, Presiden Prabowo menguraikan sasaran pembangunan tahun 2027. Kita bisa melihat pada diagram berikut, sasaran pembangunan tahun 2027 terasa sekali sangat memberi perhatian pada "kesejahteraan rakyat". Karenanya, beberapa kalangan menyebutnya sebagai "ekonomi kerakyatan" atau pendekatan ekonomi yang lebih "sosialistik".
Tampak pada gambar tersebut, penurunan kemiskinan, pengurangan pengangguran, penurunan kesenjangan, peningkatan kualitas manusia, peningkatan kesejahteraan petani, dan penciptaan lapangan kerja formal menjadi perhatian utama Presiden.
Tentu saja, untuk mencapai sasaran pembangunan tahun 2027 itu, kita membutuhkan pendanaan yang besar yang diperoleh dari penerimaan negara. Nach, di sinilah menariknya pidato Presiden Prabowo. Ia menguraikan dengan baik tentang keanehan yang terjadi pada penerimaan negara selama ini.
Awalnya, ia menguraikan bahwa pendapatan ekspor para pengusaha dari sumber daya alam pada tahun 2025 sebenarnya cukup besar, terutama sekali pada tiga komoditas utama, yaitu ekspor kelapa sawit, batu bara, dan paduan besi.
Tampak pada gambar berikut, nilai ekspor tiga komoditas tersebut tahun 2025 sekitar USD 65 miliar atau setara Rp1.100 triliun.
Akan tetapi, ia mempertanyakan kenapa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang pesat itu tidak memberikan pengaruh penting terhadap penurunan penduduk miskin dan peningkatan kelas menengah?
Pada diagram berikut, ia kemudian mengungkapkan data penduduk miskin dan rawan miskin Indonesia yang malah meningkat, dari 46,1 persen tahun 2017 menjadi 49,5 persen tahun 2024. Persentase kelas menengah menurun dari 22,1 persen tahun 2017 menjadi 17,4 persen tahun 2024.
Ini tentu analisis yang sangat kritis.
Yang menariknya lagi, ia menyandingkan neraca ekonomi Indonesia dalam 22 tahun terakhir, yang dilihat dari sisi ekspor-impor barang dan keluar-masuknya uang.
Tampak pada diagram berikut, dalam 22 tahun terakhir, sebenarnya neraca ekspor-impor barang Indonesia itu positif senilai USD 436 miliar, tetapi anehnya neraca keluar-masuknya uang malah negatif senilai USD 343 miliar.

Komentar