Minggu, 13 Oktober 2013

Resensi: Buku Ayah, Kisah Buya Hamka


Beruntung sekali saya, ketika dipercaya menjadi reviewer 2nd Ikanas Academic Conference, selain sertifikat, di kantong souvenir, saya melihat ada buku "Ayah, Kisah Buya Hamka" yang ditulis anak kelima Buya Hamka, yaitu Irfan Hamka.

Begitu besar nikmat yang diberikan Sang Khalik kepada penulisnya. Begitu besar juga bakti penulis kepada ayahnya. Itulah sebabnya, ia begitu semangat menerbitkan buku ini ke khalayak luas. Tadinya, buku ini memang telah terbit, tetapi lebih banyak disebarkan ke kalangan terbatas. Buku ini diterbitkan kembali oleh Penerbit Republika dengan beberapa modifikasi, ketika penulis sudah berumur 70 tahun.

Memang, ketika kita membaca buku ini, masih banyak sebenarnya hal-hal yang belum terungkap tentang Buya Hamka. Ketika kecil, tokoh ini sangat saya kagumi karena ceramahnya yang teduh di TVRI. Rasanya, tidak ada pesimisme ketika mendengar jawaban-jawaban beliau ketika menjawab curhat pemirsa. 

Sayangnya, ntah karena keterbatasan penulisnya, atau untuk menjaga hubungan baik dengan banyak pihak, seperti diajarkan ayahnya, penulis kurang berani, misalnya, mengungkap lebih jauh hubungan Buya Hamka dengan Presiden Soeharto. Padahal, tampak adanya pasang-surut hubungan antara keduanya.

Pada awalnya, buku ini lebih terasa sebagai autobiografi penulisnya. Sebagai contoh, ia banyak mengulas tentang perjalanan haji ke Mekkah bersama ayah dan umminya (Bagian 4). Namun, yang lebih banyak diuraikan adalah sisi dirinya. Terutama ketika pada perjalanan haji itu ia juga berkunjung ke beberapa negara sekitarnya. Tampak sekali bahwa penulis kurang bisa membedakan sisi dirinya dan sisinya ayahnya, yang ingin ditulis di buku ini. 

Bahkan, penulis juga banyak menyisipkan sisi percintaan dirinya. Bahkan, begitu jujurnya, juga diceritakan bagaimana para pasangan jemaah haji yang menumpang kelas III mampu menyelesaikan urusan seksnya di dek kapal. Sebab, pada waktu itu perjalanan haji bisa berbulan-bulan karena masih menggunakan kapal laut.

Walaupun begitu, banyak hal yang bisa dipahami lebih jauh tentang Buya Hamka, seperti penjelasan kesufian Buya Hamka (Bagian Enam), kemampuannya mengadakan kesepakatan dengan jin (Bagian Tiga), dan sisi kepeduliannya yang tidak saja dengan manusia, tetapi juga dengan hewan, kucing kesayangannya yang hidup dengannya sekitar 25 tahun (Bagian Delapan).

Kita juga bisa melihat integritasnya menghindari konflik kepentingan ketika ditawari sebagai Mayor Jenderal Tituler (Dua Saran Ummi, hal 199 - 201). Ia tidak ingin persepsi masyarakat yang telah melihatnya sebagai pendakwah terganggu dengan jabatan itu.

Juga ketika ditawari sebagai Duta Besar di Arab Saudi. Terasa sekali peran dari istrinya. Buya Hamka berembug terlebih dahulu dengan istrinya. Ternyata, pandangan istrinya begitu luas. Ia lebih menimbang kepentingan mengurus Mesjid Al Azhar yang saat itu sedang berkembang dan sedang membutuhkannya daripada menerima jabatan bergengsi tersebut. 

Tampaknya, pilihan Buya Hamka ketika dalam posisi sulit menentukan pilhan itu perlu dicontoh oleh Jokowi. Ketika banyak pihak mulai banyak yang ingin mengusungnya sebagai calon presiden, Jokowi perlu membaca buku ini untuk memperoleh pandangan yang bijak.

Sikap Buya Hamka yang terbuka juga tampak sekali. Ia bukanlah pendendam. Hatinya memang begitu teduh. Ini tampak ketika ia dengan ikhlasnya mau membantu orang yang dahulu tidak suka padanya. Bahkan, hal ini ditunjukkan sampai keikhlasannya mengantar ke liang lahat orang-orang yang tadinya berseberangan dengan dirinya, seperti Presiden Soekarno dan M. Yamin. Bahkan ia pun mau mengajari agama ke calon menantu Pramoedya Ananta Toer yang dulunya mengecam hasil karyanya (Bagian Sembilan).

Menurut pandangan saya, buku ini lebih tepat dibilang buku kenangan keluarga yang layak menjadi koleksi bagi turunannya. Soalnya, pada bagian belakang, silsilah keluarga ditulis dengan lengkap. Juga foto-foto keluarga. Foto Buya Hamka sendiri ketika berada di lingkungan kemasyarakatan sangat terbatas. Riset tentang foto ini mestinya dikembangkan jika ingin ditujukan ke khalayak ramai. Pasti masih banyak koleksi foto terkait Buya Hamka di Arsip Nasional yang bisa dipinjam untuk memperkaya isi buku ini.

Biasanya, cukup lama saya dalam membaca biografi. Kali ini, cukup dua malam saja. Ini mungkin disebabkan isinya yang membuat saya semakin ingin tahu tentang Buya Hamka, walaupun rasanya masih perlu buku lain untuk melengkapinya.***



Posting Komentar