Kamis, 11 Juni 2009

Email: Dimanakah Kebenaran dan Keadilan bagi Kami Para Pedagang?

Saya mendapat email tentang permasalahan terkait manajemen pasar di Medan. Semoga pihak yang terkait dengan ini bisa menindaklanjutinya dan melakukan perbaikan agar pelayanan terhadap pedagang dan pembeli dapat ditingkatkan.

Dengan Hormat

Saya seorang pedagang yang berjualan di Pasar Pusat Pasar Medan. Masalahnya, saya mohon bantu saya emailkan ke semua badan pemerintahan seperti Bapak Presiden, Bapak Wapres, DPR RI, DPD(Dewan Pengawas Daerah), BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) dan yang lainnya. Juga ke semua media, seperti media electronic, dan juga media massa agar masalah ini bisa tuntas, agar kami para pedagang dapat berjualan dengan tenang dan nyaman.

Kami para pedagang dengan ini menyatakan keberatan karena setiap kali kami membayar lebih dari yang diwajibkan, kios-kios dagangan kami tetap saja kebongkar sampai-sampai LP (Laporan) kami sudah banyak di POLTABES MS.

Masalahnya, di tempat saya berjualan banyak sekali terjadi yang namanya Pungli (Pengutipan Liar). Berdasarkan PERDA SK Direksi PD Pasar, uang jaga malam dikutip Rp300/kios/malam, tapi yang dikutip para jaga malam sebesar Rp1000 s/d Rp10.000, maka pengutipan tanpa pernah menggunakan karcis. Jika saya dan seluruh pedagang tidak bayar sesuai peraturan dari jaga malam, kios kami berjualan dikencingi dan dilempari kotoran.

Masalahnya bukan hanya saya saja yang di buat begitu, tapi seluruh pedagang. Masalah ini sudah berlangsung selama 20 tahun. Terjawablah bahwa PD Pasar merupakan topeng WALIKOTA MEDAN. Saya sudah melapor kepada pihak yang berwajib (polisi), tapi tidak ada tanggapan.

Pedagang yang lain tidak ada yang berani melawan mereka karena mereka takut jika mereka juga melapor maka mereka akan diancam. Jika melapor, kios mereka akan dilempar taik, di bongkar kiosnya, dan diancam di luar bakal diculik.

Sepertinya PD Pasar memakai preman2 sebagai tameng atau PD Pasar bermain di balik layar dan menerima uang kutipan jaga malam sebagai jatah mereka. Kalau tidak diberikan izin jaga malam, mereka dicopot.

Saya harap Anda-Anda mau mengirim email ini ke tempat yang saya beritahukan. Juga emailkan ke BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) untuk memeriksa kas PD Pasar Pusat pasar Medan karena dengar kabar dari para pedagang yang lain para preman yang melakukan pungli hasil punglinya diberikan kepada PD Pasar dan diteruskan ke Pemko Medan. Nilainya sekitar kurang lebih Rp20 juta/bulan.

Para preman yang melakukan pugli tersebut melakukan kegiatan punglinya mengatasnamakan KP3M. Sebenarnya, itu hanyalah sebagai kedok mereka agar lebih leluasa untuk melakukan Pengutipan Liar.

PD Pasar Selalu mengatakan "Salah pedagang mengapa mau memberi Rp1000 s/d Rp.10.000 ". Jawaban konyol membuang badan PD Pasar demikian khan bila tidak ada sandiwara seharusnya pertanggungjawaban PD Pasar memaksa mekanisme jaga malam mengutip uang tegakkan pada peraturan agar tidak ada kesimpangsiuran/permasalahan antara pedagang kepada mereka (petugas jaga Malam).

Kami para pedagang takut sama preman (Petugas Jaga Malam) karena kami sering diintimidasi dan diteror perorangan. Jumlah Kios 3.000, belum lagi jumlah stand dan lapak-lapak yang ada di Pasar Pusat Pasar Medan.

Kami mohon dengan sangat berita ini segera sampai kepada pihak-pihak pemerintahan Pusat dan juga kepada Bapak Presiden, Bapak Wapres, Bapak DPR RI (Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia), DPD(Dewan Pengawasan Daerah), dan BPK (Badan Pemeriksa Keuangan), khususnya BPK Medan.

Besar harapan kami seluruh pedagang di Pasar Pusat Pasar Medan agar dapat diberikan titik cerah pada permasalahan yang kami hadapi sekarang ini. Kami juga berharap agar yang namanya KP3M dicabut izinnya agar kami para pedagang dapat berjualan dengan tenang dan digantikan oleh aparat kepolisian agar premanisme tidak terjadi lagi di tempat kami berjualan tepatnya di Pasar Pusat Pasar Medan.

HORMAT KAMI,


Para Pedagang Pusat
Pasar Medan

Senin, 08 Juni 2009

Tentang Shell Gaz Station


Tentu, Anda sering melewati pompa bensin Shell yang bertebaran di Indonesia. Suatu ketika saya bercerita tentang hipotesis saya atas pompa bensin yang sampai sekarang ini kosong terus pengunjungnya. Saya bercerita dengan orang kantor saya tentang itu beberapa waktu yang lalu tentang hipotesis saya, yaitu, pertama, Si Bule Shell salah menginterpretasikan jawaban orang Indonesia ketika bertanya mengenai preferensi mereka menggunakan BBM. Atau, kedua, Si Bule sudah ditipu oleh konsultan perencananya dengan menyampaikan data bahwa ada kebutuhan yang tinggi atas BBM di Indonesia sehingga direkomendasikan agar Shell menginvestasikan pompa bensin. Walaupun, bisa jadi, konsultan perencana tadi sengaja menipu si bule, supaya mendapat proyek pembuatan pompa bensin lebih banyak lagi dari Shell, tidak peduli apakah akhirnya itu pompa bensin terpakai atau tidak.
Setelah beberapa lama, hari ini orang kantor saya itu mengirim email seperti di bawah ini.
Yth. Pak Rudy. Sekadar intermezo, berapa hari lalu saya melintasi pompa bensin swasta (Shell) yang baru saja dibuka di jalan tembus Casablanca. Melihat hal ini saya teringat Pak Rudy, sambil dalam hati saya bertanya "apakah benar surveyor nasional (saya tidak pernah bilang konsultan perencananya orang Indonesia, loch--rmh) selalu membohongi investor asing", pom bensin yang sudah terlanjur ada saja terlihat lengang, kok malah mendirikan yang baru lagi.

Mungkin ada benarnya pendapat Bapak, tapi saya berpendapat lain, mungkin surveryor kita melihat untuk jangka panjang, dengan jumlah penduduk yang ada merupakan pasar yang sangat bagus. Untuk pendapatan saat ini, memang asyarakat masih belum punya pilihan untuk mendapatkan kualitas bahan bakar yang baik dan ramah lingkungan, yang penting kendaraan mereka dapat digunakan, tapi kita tidak tahu 5 atau 10 tahun ke depan mungkin bahan bakar sekelas premiumnya Pertamina akan ditinggalkan. Atau, mungkin juga perusahaan minyak asing memprediksi bahwa umur Pertamina tidak akan lama lagi.. who knows... Tapi, mudah2an tidak demikian, karena saya juga berharap walau pendapatan naik dengan adanya remunerasi saya tetap masih bisa beli bensin murah he..he..

Okey Pak Rudy, berikut adalah pompa bensin Shell di Km. 34 Jagorawi yang terlihat sangat lengang namun mereka malah menambah mesin pompa baru persis di sebelahnya.

Ini komentar saya:
Dalam suatu planning, kita memang harus melihat dan bervisi ke depan. Tapi, kita juga harus memperhatikan resources yang ada. Karena itu, untuk mencapai sesuatu yang jauh ke depan (misalnya 5 tahun ke depan), kita harus punya roadmap.
Dalam kasusnya Shell, mestinya kan bisa saja tahun pertama mereka beli tanahnya yang luas untuk mengantisipasi 5 tahun ke depan. Tapi, station-nya kan bisa dibangun secara modular.
Tapi, saya punya hipotesis lain sekarang, jangan-jangan dulunya mereka memperkirakan bisa berhasil memaksa Pemerintah Indonesia untuk mencabut subsidi BBM. Dengan demikian, BBM di Indonesia sudah mulai menggunakan harga market yang tidak diatur oleh Pemerintah, seperti di negara lain. Sialnya, itu tidak berlangsung mulus. Apa lagi neoliberalisme sekarang dianggap musuh.
Kenapa mereka masih terus bangun station seperti di Casablanca? Mungkin karena sudah keburu kontrak dengan pihak ketiga atau mereka percaya Presiden Indonesia ke depan yang terpilih pasti adalah pendukung neoliberalisme, seperti SBY- Boediono. Jadi, mereka percaya sekali pasangan ini tidak terkalahkan dan dalam 5 tahun ke depan subsidi BBM pasti dicabut.
Apalagi tim kampanye pasangan ini adalah dari luar (Fox Indonesia). Jangan-jangan Shell sudah ngobrol2 dengan Fox Indonesia sehingga sangat pede akan ke mana arah ekonomi Indonesia ke depan. Who knows?