Sabtu, 29 Desember 2012

Berkunjung ke Pulau Tidung



IMG-20121226-00014

Pulau Tidung
Tanggal 25 Desember 2012 lalu saya sempat berkunjung ke Pulau Tidung. Kunjungan ini sebenarnya merupakan kunjungan yang tidak direncanakan. Secara kebetulan ada keluarga yang mengajak ke pulau tersebut. Secara sekilas saya juga pernah mendengar pengembangan pariwisata di Pulau Tidung dari sebuah radio. Bahkan, ada twitternya.

Pariwisata yang digalakkan ke Pulau Tidung adalah pariwisata berbasis komunitas. Artinya, kita sebagai turis menginap di rumah warga sekitar. Tadinya, saya tidak membayangkan akan seperti apa tinggal di rumah warga. Rupanya, sudah banyak rumah warga yang dimodifikasi agar bisa dinikmati oleh para turis.

Perjalanan ke Pulau Tidung dengan kapal kecil dari Muara Karang menghabiskan waktu sekitar 2 jam. Harga tiket kapal Rp40 ribu per orang. Kalau ingin cepat, kita bisa juga menggunakan jet foil, tetapi berangkat dari Marina Ancol dengan tiket sekitar Rp240 ribu per orang. Waktunya sangat pendek, sekitar satu jam.
IMG-20121226-00012Suasana di dalam kapal
Kapal kecil dari Muara Karang telah dilengkapi pelampung yang memadai. Jadi, cukup yakinlah untuk segi keselamatan. Lagi pula, kalaupun ada gangguan kapal, penumpang tidak akan terdampar terlalu jauh karena jalur yang dilewati tidak jauh dari pulau-pulau sekitarnya. Kemungkinan kalau ada masalah penumpang akan terdampar ke pulau terdekat.

Tadinya, saya tidak merencanakan menginap di Pulau Tidung. Namun, ketika tiba di sana, kapal yang kembali ke Muara Karang sudah berangkat lebih awal. Tidak ada kapal lagi untuk kembali setelah pukul 12.00 WIB. Tampaknya juga memang wisata ke Pulau Tidung sudah diarahkan untuk menginap.

Harga penginapan tidak terlalu mahal. Untuk sebuah rumah dengan 2 kamar, sekitar 300 – 400 ribu. Ada ruang tamu di dalamnya dengan 2 kamar mandi. Dengan demikian, cukup banyak menampung orang sebenarnya. Kalau ingin menyewa rumah yang 1 kamar dan ada ruang tengahnya, harganya sekitar 200 – 300 ribu.

Wisata di Pulau Tidung cukup banyak. Dengan penduduk sekitar 5 ribu orang, di sana kita bisa berwisata ke Pantai Cinta, di sebelah Timur. Di sana ada Jembatan Cinta. Di lokasi ini, kita bisa berwisata dengan Banana Boat. Harganya sekitar 150 ribu per boat yang bisa diisi 5 orang. Anda juga bisa melakukan penyelaman snorkeling melihat keragaman hayati bawah. Harganya sekitar 35 ribu per orang.
IMG-20121225-00007
Banana Boat
Selain itu, Anda juga bisa melihat matahari terbenam di pantai sebelah Barat. Katanya, di sana ada rumah pangung kecil, tetapi saya tidak sempat ke sana. Saya sempat ke dermaga Utara. Kita bisa melihat nelayan yang baru bersandar.
Sayangnya, pantai di sebelah Selatan mengandung banyak limbah dari Jakarta. Bahkan, ada lampu bohlam. Ini akan membahayakan anak-anak kecil yang berwisata ke sana. Padahal, pantai sebelah Selatan ini berpasir dan cukup bagus.
Namun, untuk kuliner di pulau ini sangat menyenangkan. Kita bisa makan malam seafod dengan harga terjangkau. Jika Anda beruntung, kunjungi rumah makan tenda yang menjual kepiting dengan rasa yang memikat. Juga udang segarnya. Kami ada 20 orang yang ikut makan malam menghabiskan sekitar 1,2 juta. Cukup murah bila dibandingkan makan seafod di Jakarta.
Saya sempat ngobrol dengan salah satu nahkoda Pak Suhadi orang asli Pulau Tidung. Dia bilang, kalau kita mau berwisata ke sana juga bisa menggunakan travel. Asalkan jumlah di atas 12 orang. Tarifnya 280 ribu per orang. Ini sudah termasuk penginapan satu malam, ongkos kapal pulang-pergi, bersepeda, snorkeling, dan barbeque di malam hari.
Ayoo susun agenda Anda ke sana. Siapkan lebih awal karena Jumat – Senin biasanya hari-hari sibuk di sana.

Jumat, 28 Desember 2012

Memperluas Reformasi Pengadaan Nasional

Tanggal 27 Desember 2012 saya berkesempatan mengikuti diskusi terbatas. Diskusi ini dilaksanakan atas kerja sama Lembaga Kebijakan Pengadaan Pemerintah (LKPP) bekerja sama dengan Partnership for Governance Reform. Peserta diskusi ini umumnya adalah orang-orang hebat di dunia TI, seperti Onno W. Purbo, Betty Alisyahbana, Gildas, dan lainnya. Ada juga dari birokrat, seperti Inu dari Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg), Bambang Heru dari Kementerian Kominfo, Dwi Atmaji dari Bappenas. Dari LKPP sendiri diikuti secara lengkap oleh jajaran pimpinannya.

Fokus diskusi adalah perumusan arah pengadaan nasional ke depan. Banyak masukan berarti dari para pakar. Masukan dari saya sederhana saja, bagaimana agar reformasi pengadaan yang bisa dibilang sudah mulai terasa hasilnya dengan Layananan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) diekspansi ke reformasi aspek lainnya. Sangat sayang sekali jika potensi yang ada tidak diarahkan ke sana. Sementara itu, bisa dibilang inilah program reformasi yang bersifat masif dan dapat dirasakan langsung oleh banyak pihak.

Sudah saatnya para pihak yang me-lead reformasi pengadaan memperluas jangkauan reformasi ke aspek lain, seperti perencanaan dan penganggaran, bahkan ke pelaporan. Kita belum merasakan reformasi nyata pada aspek di luar pengadaan. Banyak memang inisiatif teknologi informasi untuk mendukung reformasi keuangan. Namun, mengingat bisnis keuangan di sektor publik sangat tertutup, masyarakat tidak merasakan manfaat transparansi dari adanya teknologi informasi tersebut. Hal ini berbeda dengan LPSE.

Pada LPSE, secara tidak langsung kita sebenarnya sudah membuka gerbang transparansi di sistem birokrasi. Pengadaan itu sendiri bisa dibilang merupakan proses inti dari sistem birokrasi. Karena itu, sudah saatnya orang-orang hebat yang terlibat dalam reformasi pengadaan mau melakukan ekspansi ke aspek lain yang saat ini terseok-seok.

Selain itu, saran saya berikutnya adalah memperkuat quality assurance dari produk LPSE itu sendiri, baik pada aspek sekuriti, pengendalian, maupun audit. Hal ini perlu berjalan beriringan. Mengingat tersedianya orang-orang yang handal di bidang ini, Indonesia pasti siap untuk mengawal proses reformasi birokrasi yang tidak basa-basi lagi.

Kebiasaan Buruk Rapat

Dengan perkembangan teknologi saat ini, kita sering tidak sadar bagaimana menggunakan teknologi yang tepat pada saat rapat. Sebagai contoh, pengunaan notebook. Kita sering menjumpai peserta rapat yang sibuk dengan gadget-nya masing-masing. Bahkan, di banyak daerah, saya melihat ketika pimpinan memberikan pengarahan pun banyak peserta yang asyik dengan notebook-nya masing-masing.

Bagi pimpinan yang tidak mengetahui penggunaan teknologi informasi yang tepat, mereka berberfikir bahwa anak buahnya itu sedang mencatat arahannya. Padahal, tidaklah demikian. Mereka sedang asyik mengakses internet atau mengerjakan hal lain yang tidak terkait langsung dengan topik rapat. Atau bahkan merupakan pengalihan dari ketidaktertarikan mereka dengan arahan pimpinan.

Pada lingkungan kerja saat ini, memang multi-tasking adalah hal yang tidak terhindarkan. Teknologi memungkinkan manusia mengerjakan banyak hal pada waktu yang sama. Buruknya, kualitas kerja pun menjadi kurang diperhatikan. Manusia banyak yang tidak fokus dalam bekerja. Mereka kurang bisa meresapi secara mendalam hal-hal yang dikerjakannya. Manusia cenderung cepat berpindah dari topik yang satu ke topik yang lain. Hal ini pun juga merembet ke pemberitaan di media. Media cenderung saat ini mudah berpindah dari isu yang satu ke isu lain. Akhirnya, tidak ada penyelesaian terhadap isu yang pernah diangkat.

Penggunaan teknologi yang tidak tepat mengakibatkan banyak rapat yang tidak efektif. Rapat pun hanya menjadi ajang seremonial. Rapat yang semestinya ditujukan untuk menghasilkan sesuatu yang bersifat kolaboratif, bersama-sama, akhirnya hanya menjadi ajang untuk bekerja sendiri-sendiri. Yang membedakan dengan bekerja tanpa di ruang rapat adalah adalah mereka berada pada ruang yang sama, tetapi tidak secara khusus untuk menuntaskan masalah bersama.

Sebenarnya, penggunaan teknologi yang tidak tepat ini pun sudah berlangsung lama. Jauh sebelum adanya teknologi komputer. Kalau Anda perhatikan, hal ini juga terjadi pada waktu penggunaan buku kerja atau agenda dengan tulisan tangan. Perhatikanlah bahwa banyak peserta rapat hanya mencatat hal-hal yang disampaikan pimpinannya. Rapat yang mestinya dua arah, akhirnya hanya dialog satu arah, monolog.

Kebiasaan mencatat ketika rapat sebenarnya juga merupakan upaya seseorang memproteksi dirinya agar terhindar berkomunikasi atau berdialog langsung dengan pimpinannya. Pada umumnya karena dibentuk oleh budaya feodalisme mereka takut bertatapan mata langsung dengan pimpinannya. Padahal, pada suatu rapat dibutuhkan dialog dua arah, bukan monolog. Dialog ini dapat dibangun jika masing-masing pihak bertatapan muka secara langsung. 

Buku kerja atau agenda adalah salah satu teknologi yang salah digunakan. Manusia menggunakannya secara tidak tepat. Pimpinan rapat pun melihatnya sebagai hal yang baik ketika semua stafnya pada saat rapat mencatat. Padahal, kegiatan mencatat itu adalah pengalihan dari kesungkanan mereka berdialog dengan pimpinan rapat. 

Karena itulah, saya termasuk malas mengikut rapat. Jika isi rapat tidak ada dialog, maka rapat menjadi membosankan. Para pihak tidak bisa saling mengkonfirmasi apa yang disampaikan oleh masing-masing pihak. Saya lebih bersedia mengikut rapat yang isinya ada dialog. Agar dialog ini dapat berjalan, maka berbagai penggunaan teknologi harus diminimalkan.