Rabu, 15 Februari 2012

Bagaimana Membuktikan Misteri PIN BlackBerry 21ccf231 Milik Angelina Sondakh?

Sekarang saya mencoba menulis dengan topik hangat yang sama dengan judul di atas. Ini saya maksudkan agar kita lebih fokus dalam pembahasan. Sebab, persoalan korupsi yang melibatkan petinggi partai penguasa negeri ini telah merembet ke hukum teknologi informasi.


Mari kita mulai. Dalam persidangan, saksi Angeline Sondakh yang juga masih anggota DPR itu bersikukuh bahwa PIN yang digunakan untuk berkomunikasi dengan pihak pemberi uang bukanlah miliknya. Pihak Naruddin berjuang habis-habisan untuk membuktikan bahwa PIN itu adalah benar milik Angelina. Apakah persoalan PIN ini penting diperdebatkan, tentu sudah jelas. Sebab, itu bisa merupakan bukti utama adanya permintaan uang secara tidak sah dari bawahan Nazaruddin. Persidangan ini juga semakin membuka mata kita penyebab lambatnya Anagelina ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.


Yang menarik adalah bukti fisik adanya BlackBerry itu pun tidak dapat ditelusuri keberadaannya. Padahal, ini merupakan bukti penting. Seperti halnya senjata untuk membunuh, keberadaan perangkat ini akan menjadi alat bukti bagi penyidik untuk membuktikan siapa yang melakukan tindakan pelanggaran hukum. Pada senjata api, biasanya kita bisa mengidentifikasi siapa yang sebenarnya menjadi pelaku utama.


Ketika alat bukti itu tidak ditemukan dan pelakunya tidak mengakui bahwa itu adalah alatnya untuk melakukan kejahatan, persoalan akan menjadi rumit. Pihak penasihat hukum Nazaruddin sudah mencoba membuktikan dengan berbagai cara. Mari kita bedah apakah kita bisa membuktikan bahwa memang PIN tersebut milik Angie.


Pertama, pengacara Nazaruddin mencoba membuktikan bahwa sejak tahun 2009 Angelina telah memiliki BlackBerry dengan menunjukkan fotonya di mana di mejanya terdapat perangkat sejenis BlackBerry. Dengan enteng, Angelina menyatakan itu benar fotonya, tetapi tidak mengakui bahwa ia telah memiliki BlackBerry sejak lama. Memang, ini sangat mudah dipatahkan. Sebab, bisa saja perangkat yang ada di meja di hadapan Angelina adalah perangkat BlackBerry wartawan yang mewawancarainya, karyawannya, atau orang lain yang sedang berada di ruangan tersebut.


Kalaupun itu milik Angelina, kita tidak bisa memastikan bahwa itu memang perangkat BlackBerry. Banyak perangkat tahun 2009 yang sudah mengikuti bentuk perangkat BlackBerry.


Kedua, tidak kekurangan akal, pengacara Nazaruddin meminta hakim untuk memanggil pengelola BlackBerry (RIM) ke persidangan. Asumsinya, mereka (RIM) bisa membuktikan bahwa PIN itu adalah benar milik Angelina. Saya rasa, ini juga tidak tepat. Sebab, RIM tidak bisa menyatakan apakah PIN tersebut benar milik Angelina. Paling bisa, RIM akan menyatakan bahwa PIN tersebut digunakan pada perangkat BlackBerry IMEI nomor sekian dan nomor Caller ID sekian.


Masalahnya, Caller ID tersebut siapa nama pemilikinya harus dikonfirmasi langsung ke operator jaringan telekomunikasinya. Artinya, kalaupun RIM mau dipanggil ke persidangan, masih banyak hal yang harus ditelusuri.


Masalahnya, atas dasar hukum apa pengadilan di Indonesia dapat memanggil RIM? Tidak pernah saya dengar dalam kasus seperti ini RIM dipanggil untuk menjadi saksi dan membuktikan identitas pelanggannya di negara lain. Mereka mempunyai ikatan privasi yang dipegang ketat oleh mereka.


Daripada pengacara membuang waktu untuk hal-hal semacam itu, saya rasa yang paling penting adalah kembali ke substansinya, yaitu membela kliennya untuk membuktikan apakah kliennya bersalah atau tidak. Klien juga harusnya semakin pintar dalam kasus ini. Sebab, semakin berlarut-larut, maka yang diuntungkan paling utama adalah pengacaranya. Argo untuk membayar para pengacara menjadi semakin besar. Tidakkah lebih baik kita menciptakan proses persidangan yang semakin efisien?
Posting Komentar