Kamis, 16 Februari 2012

Misteri PIN BlackBerry Angelina: Apakah PIN Itu Milik Almarhum Suaminya?

Tulisan saya sebelumnya tentang bagaimana membuktikan apakah benar Angelina Sondakh yang telah mengirim pesan ke Rosa Mindo Manulang ternyata telah mendapat tanggapan yang beragam. Beberapa tanggapan telah menulisnya dengan baik. Namun, kembali lagi saya akan mengungkapkan kelemahan dari apek hukum kita. Ingat, sampai sekarang RIM belum mau secara penuh mengikuti aturan hukum kita. Bahkan, janji membuat server di Indonesia juga belum dilakukan. Mudah-mudahan ini bisa menjadi masukan perbaikan bagi para ahli hukum ke depan.

Kembali ke awal, soal PIN. Bagi Anda yang biasa menggunakan BlackBerry tentu paham bahwa ketika Anda membeli BlackBerry harus memiliki Simcard terlebih dahulu agar dapat digunakan untuk berkomunikasi. Ketika Anda akan menggunakan Simcard pascabayar, Anda tentu harus meregistrasi identitas Anda ke provider telekomunikasi. Artinya, dengan demikian, kita bisa memastikan siapa pemilik suatu Caller ID (atau dikenal dengan istilah nomor HP bagi orang awam). Namun, di sini juga akan timbul masalah hukum. Sebab, walaupun Caller ID tersebut teregister atas nama seseorang, di Indonesia adalah praktik yang lazim Caller ID itu digunakan oleh pihak lain, baik anaknya, saudaranya, atau karyawannya. Bahkan orang yang tidak dikenal oleh pemilik Caller ID itu sendiri pun bisa terjadi.

Ini mirip kasus kepemilikan kendaraan. Sering sekali di Indonesia nama pemilik kendaraan tidak pernah diubah. Padahal, kepemilikan kendaraan sudah berpindah ke beberapa tangan. Ketika terjadi pelanggaran hukum terkait dengan penggunaan kendaraan tersebut, penyidik menjadi kesulitan untuk menelusuri pelakunya. Penyidikan akan membutuhkan waktu yang lama karena harus menelusuri dari pemilik resmi yang tercantum namanya di dalam sistem registrasi kepolisian. Sampai saat ini, saya tidak mendengar adanya sanksi hukum bagi mereka yang tidak melaporkan perubahan kepemilikan kendaraan. Karena itu, pelaporan perubahan nama registrasi itu masih bersifat sukarela.

Anda bisa bayangkan, hal ini juga terjadi dengan perangkat komunikasi. Jika Anda pergi ke toko alat komunikasi, dengan mudah Anda bisa memperoleh perangkat yang masih teregistrasi dengan nama orang lain. Karena itu, penyalahgunaan menggunakan alat komunikasi tersebut dengan menggunakan nama pemilik lama menjadi sangat mudah.

Sekarang kedua, mari kita diskusi tentang PIN. Setelah Anda mimiliki Caller ID, kemudian Anda bisa melakukan registrasi agar BlackBerry Anda bisa berfungsi sesuai dengan fasilitas yang di-support oleh RIM. Untuk itu, PIN yang tercantum di handset BlackBerry Anda akan teregistrasi di provider sebagai telah berfungsi (beroperasi). Masalahnya, ketika Anda telah melakukan registrasi, Anda bisa membuat Display Name apapun di Profile BlackBerry Anda. Anda bisa mengaku Si A atau Si B.

Ini juga sering disalahgunakan. Ketika seseorang mengetahui PIN BlackBerry Anda, orang tersebut bisa meng-invite Anda dengan nama samaran apapun. Bahkan, bisa mengaku anggota DPR dari manapun. Karena itu, dalam kasus pengakuan Angelina, harus ditelusuri bagaimana pertama kalinya Rosa bisa saling berkomunikasi melakui BBM dengan Angelina. Perlu ditelusuri siapa yang pertama kali meng-invite. Jika yang meng-invite adalah Rosa, harus ditanyakan ke Rosa dari mana dia yakin bahwa PIN tersebut memang milik Angelina? Jika yang meng-invite itu adalah dari Angelina, dari mana Rosa yakin bahwa PIN yang meng-invite itu adalah benar miliki Angelina?

Jadi, kalau kita sekedar ingin membuktikan bahwa apakah benar PIN itu milik Angelina, tidaklah tepat memanggil RIM. Selain kesulitasn dalam hal yuridiksi hukum, persoalan lain akan muncul. Akan ditempatkan sebagai apa pihak RIM ini? Sebagai saksi? Ingat, bukti hukum ada 2 yang paling utama, yaitu saksi dan surat/dokumen (elektronik atau hardcopy). Apakah Anda akan meminta mereka membuat surat/dokumen tersumpah atau hanya mendengarkannya sebagai saksi? Walaupun tersimpan di log RIM, seperti tulisan di awal, RIM tidak akan bisa menyatakan apakah itu benar Si Angelina yang menggunakan PIN tersebut. Mereka hanya bisa menguraikan isi dialog dengan PIN tersebut. Kalau hanya dialog, bukankah itu sudah ada di BAP Rosa?

Kemudian, hari ini sebuah media menyatakan ada wartawan yang mempunyai dokumentasi bahwa Angelina itu sudah menggunakan perangkat yang mirip BlackBerry sejak tahun 2009. Ingat: ini adalah mirip. Wartawan tersebut tidak bisa memastikan bahwa itu benar perangkat BlackBerry. Kalaupun benar, akan menjadi persoalan hukum, di mana wartawan tadi harus bersedia menjadi saksi di persidangan untuk membuktikan hal tersebut. Tentu persoalan akan menjadi bertambah rumit.

Sebenarnya, kalau mau lebih ringkas, bisa dengan cara lain, yaitu dengan mencari rekan Angelina yang bersedia menjadi saksi yang memang sering berkomunikasi dengan BlackBerry Angelina. Dari rekan Angelina ini, bisa dilakukan konfirmasi apakah ketika berkomunikasi menggunakan BBM memang benar Angelina menggunakan PIN tersebut. Anehnya, ini tidak diantisipasi sejak awal oleh pengacara yang dikenal handal tersebut. Saya menduga, bahwa mereka tidak dapat memperoleh seorang pun rekan Angelina yang mengakui benar itu PIN Angelina.

Dengan asumsi bahwa Angelina menyatakan apa adanya, walaupun khalayak sangat curiga bahwa yang bersangkutan berbohong di depan pengadilan, analisis saya ada sesuatu hal yang aneh dalam kasus ini. Dugaan saya, ada pihak yang oleh Angelina ditutupi siapa sebenarnya pemilik PIN tersebut. Mudah-mudahan saya salah, saya menduga pemilik PIN tersebut adalah mereka yang memiliki kaitan kekeluargaan langsung dengan Angelina. Dalam keseharian, adalah lazim antara seorang suami bertukar perangkat komunikasi dengan istrinya. Sering sekali nama pada Profile di BlackBerry tidak diubah atau tidak sadar bahwa itu tidak diubah. Apakah PIN tersebut milik almarhum suaminya? Wallahualam.

Rabu, 15 Februari 2012

Bagaimana Membuktikan Misteri PIN BlackBerry 21ccf231 Milik Angelina Sondakh?

Sekarang saya mencoba menulis dengan topik hangat yang sama dengan judul di atas. Ini saya maksudkan agar kita lebih fokus dalam pembahasan. Sebab, persoalan korupsi yang melibatkan petinggi partai penguasa negeri ini telah merembet ke hukum teknologi informasi.


Mari kita mulai. Dalam persidangan, saksi Angeline Sondakh yang juga masih anggota DPR itu bersikukuh bahwa PIN yang digunakan untuk berkomunikasi dengan pihak pemberi uang bukanlah miliknya. Pihak Naruddin berjuang habis-habisan untuk membuktikan bahwa PIN itu adalah benar milik Angelina. Apakah persoalan PIN ini penting diperdebatkan, tentu sudah jelas. Sebab, itu bisa merupakan bukti utama adanya permintaan uang secara tidak sah dari bawahan Nazaruddin. Persidangan ini juga semakin membuka mata kita penyebab lambatnya Anagelina ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.


Yang menarik adalah bukti fisik adanya BlackBerry itu pun tidak dapat ditelusuri keberadaannya. Padahal, ini merupakan bukti penting. Seperti halnya senjata untuk membunuh, keberadaan perangkat ini akan menjadi alat bukti bagi penyidik untuk membuktikan siapa yang melakukan tindakan pelanggaran hukum. Pada senjata api, biasanya kita bisa mengidentifikasi siapa yang sebenarnya menjadi pelaku utama.


Ketika alat bukti itu tidak ditemukan dan pelakunya tidak mengakui bahwa itu adalah alatnya untuk melakukan kejahatan, persoalan akan menjadi rumit. Pihak penasihat hukum Nazaruddin sudah mencoba membuktikan dengan berbagai cara. Mari kita bedah apakah kita bisa membuktikan bahwa memang PIN tersebut milik Angie.


Pertama, pengacara Nazaruddin mencoba membuktikan bahwa sejak tahun 2009 Angelina telah memiliki BlackBerry dengan menunjukkan fotonya di mana di mejanya terdapat perangkat sejenis BlackBerry. Dengan enteng, Angelina menyatakan itu benar fotonya, tetapi tidak mengakui bahwa ia telah memiliki BlackBerry sejak lama. Memang, ini sangat mudah dipatahkan. Sebab, bisa saja perangkat yang ada di meja di hadapan Angelina adalah perangkat BlackBerry wartawan yang mewawancarainya, karyawannya, atau orang lain yang sedang berada di ruangan tersebut.


Kalaupun itu milik Angelina, kita tidak bisa memastikan bahwa itu memang perangkat BlackBerry. Banyak perangkat tahun 2009 yang sudah mengikuti bentuk perangkat BlackBerry.


Kedua, tidak kekurangan akal, pengacara Nazaruddin meminta hakim untuk memanggil pengelola BlackBerry (RIM) ke persidangan. Asumsinya, mereka (RIM) bisa membuktikan bahwa PIN itu adalah benar milik Angelina. Saya rasa, ini juga tidak tepat. Sebab, RIM tidak bisa menyatakan apakah PIN tersebut benar milik Angelina. Paling bisa, RIM akan menyatakan bahwa PIN tersebut digunakan pada perangkat BlackBerry IMEI nomor sekian dan nomor Caller ID sekian.


Masalahnya, Caller ID tersebut siapa nama pemilikinya harus dikonfirmasi langsung ke operator jaringan telekomunikasinya. Artinya, kalaupun RIM mau dipanggil ke persidangan, masih banyak hal yang harus ditelusuri.


Masalahnya, atas dasar hukum apa pengadilan di Indonesia dapat memanggil RIM? Tidak pernah saya dengar dalam kasus seperti ini RIM dipanggil untuk menjadi saksi dan membuktikan identitas pelanggannya di negara lain. Mereka mempunyai ikatan privasi yang dipegang ketat oleh mereka.


Daripada pengacara membuang waktu untuk hal-hal semacam itu, saya rasa yang paling penting adalah kembali ke substansinya, yaitu membela kliennya untuk membuktikan apakah kliennya bersalah atau tidak. Klien juga harusnya semakin pintar dalam kasus ini. Sebab, semakin berlarut-larut, maka yang diuntungkan paling utama adalah pengacaranya. Argo untuk membayar para pengacara menjadi semakin besar. Tidakkah lebih baik kita menciptakan proses persidangan yang semakin efisien?